Watak seseorang menurut neptu kelahiran:

Jumat kliwon: Jika pria tidak banyak bicara, jika wanita banyak bicara tanpa memandang pria.
Sabtu legi: kokoh pendapatnya , pandai mencari harta, kaya dermawan sebaiknya memelihara kuda
Minggu pahing: nampaknya angkuh pandai, banyak akalnya berhati – hati perasaanya halus pandai memutar dunia.
Senin pon: manis bicaranya pandai mengambil hati orang lain dan dapat mencari rejeki
Selasa wage: tidak suka dinasehati, bicaranya sulit diatur, bila wanita banyak menyimpan uang.
Rabo kliwon: pandai bicara, pikirannya selalu tertuju pada wanita, sulit bersikap seperti pendeta, hawanya kerusuhan melulu.
Kamis legi: luas pandangannya, tidak suka diatur, bila wanita : jelek , sering bertengkar tidak menghormati pria.
Jumat pahing: pendiam , jika bodoh terlampau bodohnya , jika berubah pandai ya pandai sekali. Menjadi teladan banyak orang dan banyak memiliki pengetahuan.
Sabtu pon: dapat menjadi ahli teknik (jika pria) jika wanita pandai mencari uang tanpa gengsi dan malu.
Ahad wage: mempunyai kemauan yang besar jika punya keninginga sulit dihalangi, jika wanita itikadnya tidak baik.
Senin kliwon: berpikir tenang, jika masih muda nakal setengah mati, akan tetapi setelah tua fikirannya halus dan budinya baik.
Selasa legi: pendiam , banyak akal buah fikirannya baik, kurang menghargai dirinya tapi cenderung selamat.
Rabo pahing: sedikit angkuh, tidak senang jika ada yang melebihi, senang dipuji keras pendapatnya sebenarnya mudah untuk mendapat kecocokan.
Kamis Pon: jika wanita pesolek, angkuh, pendiam,hemat, pikiranya sulit dimengerti dan tenang.
Jumat wage: banyak bicara, tepat pembicaraanya ihlas terang selalu behati hati tetapi sering mendapat rintangan.
Sabtu kliwon: sebenarnya bodoh tetapi berlagak pandai, malas bekerja, pelupa tetapi meliliki kesungguhan hati.
Ahad legi : pelupa, kepandaianya kurang dipergunakan, jika pria ia senang pada wanita yang kurang baik/wanita suka selingkuh
Senin Pahing: tamak, dalam bekerja cukupan, jika wanita pikirannya akan sangat baik
Selasa pon: berpikiranya kurang bagus, tidak senang membesarkan masalah, jika wanita sangat bagus untuk diperistri atau diwayuh/diselir/dijadikan istri ke…
Rabo wage: berpikirnya cukupan dalam lapangan pekerjaan maju, jika wanita sering berbuat curang kepada suaminya.
Kamis kliwon: berpikirnya kurang, dalam pekerjaan sangat sungguh-sungguh, pikirannya cukupanJumat legi: pendiriannya tidak tetap jika ada yang melebihinya hatinya gundah dan merasa kecewa, kalau di salip dalam mengemudi pasti nggondok.
Sabtu pahing: baik pria ataupun wanita akan hebat dalam mencari keuntungan dan pandai memegang rahasiaAhad pon: berpikirnya kurang, selau percaya pada orang lain jika wanita lebih baik hatinya, dapat menyimpan harta suaminya.
Senin wage: berpikirnya kurang , tidak suka menerima pendapat orang lain, berani mati, berani menderita , jika wanita malah sangat baik hatinya.
Selasa kliwon: jika bodoh terlampau bodoh jika pandadai dapat menjadi sastrawan atau ulama.Rabo legi: sederhana, mau memberi dan diberi, jika wanita berpikiran baik
Kamis paing : pendiam, tidak banya berpikir, bekerja dengan besungguh sungguh , menjadi priyayi yang dicintai para bangsawan dan pekerjaanya cukupan.
Jumat pon: banyak akalnya jik sudah kecewa hatinya oleh orang lain maka akan kapok dan benci selamanya, tidak suka bergaul mempunyai keinginan aneh.
Sabtu wage: pelupa, kaku keras wataknya, kurang menyenangkan, jika sudah marah meledak –ledak tapi hanya sementara.
Ahad kliwon: tamak, mempunyai banyak keinginan , jika wanita pemboros jangan dikawini bila tak ingin melarat .
Senin legi: Pendiam, tidak banyak kemauan , tenang pikiranya, jika wanita bekerjanya telaten, cerdas, dan sungguh-sunguh
Selasa pahing: pemalu, pemalas, kaku hatinya rendah perbuatanya jika wanita: baik, berbakti pada suami.
Rabo pon: berpikir kuat, suka bekerja mempunyai pendirian yang tetap jika wanita hemat, tetapi kaku keras keinginannya.
Kamis wage: bertanggung jawab, tahan menderita keras budinya , jika wanita berpikirnya setengah-setengah.

we are the world ~ JACKSON, MICHAEL JOE/RICHIE, LIONEL B., JR./RICHIE, LIONEL B., JR.

Gambar

There comes a time when we heed a certain call

When the world must come together as one
There are people dying
And its time to lend a hand to life
The greatest gift of all

We can’t go on pretending day by day
That someone, somehow will soon make a change
We are all a part of Gods great big family
And the truth, you know,
Love is all we need

[Chorus]
We are the world, we are the children
We are the ones who make a brighter day
So lets start giving
There’s a choice we’re making
We’re saving our own lives
Its true we’ll make a better day
Just you and me

Send them your heart so they’ll know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us by turning stones to bread
So we all must lend a helping hand

[Chorus]

When you’re down and out, there seems no hope at all
But if you just believe there’s no way we can fall
Let us realize that a change can only come
When we stand together as one

[Chorus: x2]

Membongkar Falsafah Perang Barat di Dunia Islam dan Indonesia Minggu, 15 April 2012 10:29 |

Sejatinya makna perang yang tengah terjadi (di dunia Islam) seperti di Iraq, Afghanistan, Pakistan dan sebagainya, adalah perang mencari harta kekayaan. Akan tetapi harus kita telisik, bagaimana Amerika Serikat (AS) dan para sekutunya negara Barat selalu mencari berbagai dalih dan alasan untuk menguasai negara-negara kaya sumber alam tersebut, dan yang dalam penilaian AS dan sekutu-sekutu barat, dianggap tidak bersahabat.

Sebagai misal di Irak, ketika Saddam Hussein dianggap AS sulit dikendalikan, lalu mencari dalih adanya kepemilikan senjata pemusnah massal, maupun tudingan bahwa Saddam Hussein telah melindungi Osama bin Laden dan Al Qaeda sebagai aktor utama aksi teror dalam pemboman gedung World Trade Center dan gedung Pentagon. Sehingga dalam skema war on terror (WOT) yang dilancarkan Presiden George W Bush, Saddam Hussein jadi target operasi untuk digulingkan dari kursi kekuasaan.

Dalih yang diajukan Bush, Saddam berbahaya bagi keamanan internasional karena melanggar demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan dituding bertanggungjawab dalam melakukan pembunuhan massal suku Kurdi di Irak Utara.

Dengan demikian, peperangan di banyak wilayah yang dilancarkan AS, terutama yang terjadi di negara-negara Islam, adalah perang sekedar mencari uang termasuk mencari barang-barang tambang seperti uranium, intan, timah, emas, minyak dan gas bumi hingga rempah-rempah (opium).

Tatkala AS dan sekutu mencari kekayaan dengan cara memaksa si tuan pemilik menyerahkan hartanya, maka itu namanya merampok. Mereka tidak ubahnya seperti “perampok-perampok internasional”. Itulah yang terjadi.

Siapa Teroris Sesungguhnya?
Teror arti Indonesianya yaitu kekacauan. Isme itu aliran. Jadi secara hakiki terorisme ialah kelompok yang selalu membuat kekacauan di muka bumi. Merujuk hal di atas, maka telah jelas bahwa AS dan sekutu ialah teroris yang sesungguhnya. Tetapi hal itu di balik arah tudingan ke Islam. Inilah bagian kecil dari propaganda Barat dalam merampok harta negara-negara yang kaya sumber daya alam tetapi masih terbelakang (dunia ketiga).

Guna mengamankan rencananya, mereka telah menyiapkan methode dan tata cara sebagai berikut :

(1) Membuat Sentimen Agama

Agar misi “perampokan” berjalan mulus, maka latar-belakang pemilik harta dipelajari dan agama mayoritas sang tuan tanah dijadikan alibi, misalnya :

(a) Membuat istilah teroris agar pemilik harta, atau warga beserta keluarga dari si tuan tanah takut akan cap dan stigma teroris, khawatir disebut ekstrimis dan seterusnya;

(b) Mengatakan bahwa perang itu adalah wahyu tuhan, sehingga AS dan sekutu mendapat bantuan moral dari para pemeluk agama lain di seluruh dunia. Mereka juga mengobarkan perang salib/suci, padahal tujuan perang bermotif ekonomi bukan penyebaran agama. Bahkan banyak dari personel atau anggota yang mengawaki justru tidak beragama.

Untuk usaha itu mereka memanfaatkan Vatikan, Anglikan dan institusi-institusi religi lainnya. Agama dijadikan alat guna menggapai cita-cita Kapitalisme.

(2) Membuat Agitasi

Menciptakan “peristiwa besar” yang dapat menimbulkan empati masyarakat internasional. Misalnya pengeboman World Trade Centre/WTC (911), Bom Bali I dan II serta aksi-aksi serupa lainnya guna menyulut kemarahan, antipati, kegeraman dan menggugah rasa kemanusian berbagai agama di dunia. Tujuannya untuk menimbulkan kebencian terhadap umat agama mayoritas pemilik harta dan si tuan tanah.

Terkesan bahwa agitasi yang diciptakan mengorbankan rakyatnya sendiri. Itulah yang disebut dengan “tumbal politik”. Dan sudah jamak terjadi dalam dunia politik: diperlukan KORBAN untuk mencapai TUJUAN.

Ada beberapa indikator peristiwa besar di dunia ialah agitasi ciptaannya, antara lain :

(a) Pada peristiwa 911-WTC banyak orang Israel atau Yahudi tidak masuk kantor. Parameter ekonomi tidak hancur. Padahal WTC merupakan ikon ekonomi AS bahkan dunia, kenapa ekonominya (pada saat itu) aman atau baik-baik saja. Artinya ibarat server yang sengaja di beri virus, ketika server down telah ada hard diskcadangan sebagai pengganti;

(b) Juga pada kejadian Bom Bali I dan II. Kenapa dipilih Bali, karena 95% wisatawan asing berasal dari Australia. Dan Australia sendiri berkepentingan untuk timbulnya kebencian (agitasi) agar rencana mereka didukung oleh rakyat dan agamawan negaranya bahkan masyarakat internasional.

Fakta menyebutkan bahwa sebelum pengeboman, banyak mahasiswa Bali dan NGO melihat ada sinyal peluru cahaya berasal dari kapal perang Australia yang bersandar di Bali. Dengan demikian, Bom Bali merupakan rencana agitasi dari Pemerintah Australia sendiri.

Sedangkan Amrozi Cs adalah korban intelijen Malaysia yang dimanfaatkan oleh Australia. Hampir semua intelijen negara-negara di dunia memahami, bahwa Malaysia dulu adalah pintu gerbang bagi para mujahidin yang mau berkorban demi membela agama.

Amrozi Cs merupakan kelompok yang punya semangat jihad tinggi, namun tidak mengerti politik serta tidak tahu jalur komando di atasnya. Ia terjebak oleh skenario global yang hingga akhir hayat tidak dipahaminya. Itulah tumbal politik global.

Koalisi 41 Negara atau ISAF
International Security Assistance Force (ISAF) adalah koalisi dari 41 negara pimpinan AS yang hendak menghancurkan Islam. ISAF itu amuba dari NATO di Asia. Dan AS pemegang saham utama bertugas menyiapkan pasukan dan modal. Ia bebas memilih daerah jajahan. Misalnya Inggris punya saham di Basra, Belanda memilih Uruzgan, Israel memilih Lebanon dan sebagian kota di Irak, dan AS sendiri memilih di Baghdad dan seterusnya.

Namun akibat perlawanan maha dahsyat oleh tentara lokal dan logikanya (penebalan, penambahan pasukan) berarti tentara lokal setempat mampu mengalahkan pasukan asing. Namun media barat banyak melakukan edit dan kontra berita. Disinyalir Barat tidak mau sejarah berpihak kepada Islam.

Sebelumnya ada perlawanan maha dashyat, sepertinya ingin bagi-bagi kue (kekuasaan), bahkan lebih dari sekedar bagi kekuasaan, mereka berencana membuat umat Islam budak di negeri sendiri dan menjadikan kelompoknya adalah Tuan Tanah Baru.

Semua itu terjadi sebab kesalahan dan kebodohan masyarakat Islam sendiri. Umat merasa inferior atau minder dengan statusnya sebagai warga negara dunia ketiga (miskin). Padahal status negara KAYA yang diperoleh AS dan sekutu merupakan hasil rampokan Perang Dunia II.

Dan kini mereka telah bersiap diri untuk merampok lagi dengan cara menggelar Perang Dunia III. Ia ingin lebih kaya dari sekarang. Hampir semua negara telah memperkuat armada-armada militernya. Seluruh dunia sudah bersiap-siap untuk menghadapi pecahnya Perang Dunia III, kecuali Indonesia. Menyedihkan!

Inilah “kematian” Indonesia dalam kancah perpolitikan global. 
Betapa ironis, di tengah ketegangan atas kecenderungan politik dunia yang memanas, justru para pejabat dan politikus Indonesia sibuk mencari “kursi”-nya sendiri-sendiri, baik di DPR maupun di kabinet pemerintahan, tanpa memperhatikan situasi global dan kemungkinan dampak buruknya yang bakal menimpa bangsa dan rakyat Indonesia.

Skenario yang tengah di-setting AS guna mencapai tujuan Kapitalisme Global adalah membuat negara atau wilayah calon jajahan dilemahkan dengan berbagai cara.

Contoh dibuat federasi, koloni dan seterusnya, dengan aneka wajah (modus). Apa yang dimiliki negara calon jajahan, baik hal-ikhwal keyakinan, simbol-simbol agama, kekayaan alam dan sebagainya dipelajari dan dicari simpul kelemahannya, bahkan melalui kaki-kaki tangan atau bonekanya –pengkhianat bangsa– (traitor) mengobrak-abrik “dari dalam” negerinya sendiri.

Salah satu bukti nyata adalah rekomendasi yang dirilis Rand Corporation, sebuah think-thank atau badan kajian strategis yang dibiayai oleh Departemen Pertahanan AS (Pentagon). Dalam studi dan rekomendasinya yang dirilis pada 1998 semasa kepresidenan Bill Clinton, Rand Corporation mendesak pemerintah AS agar Indonesia dibagi jadi beberapa bagian menjadi negara tersendiri terpisah dari NKRI sebagai induknya.

Adapun beberapa wilayah yang direkomendasikan agar lepas dari NKRI adalah Bali, Kalimantan Timur, Papua, Riau, Maluku, Timor Timur, dan Aceh. Sehingga praktis yang tersisa dalam NKRI adalah Jawa dan Daerah Ibukota Jakarta.

AS dan sekutu rela mengeluarkan dana cukup besar untuk program ini. Membuat Non Government Organization (NGO) seperti NED dan seterusnya, yang berpihak kepada mereka, “membajak” ahli-ahli berbagai bidang terutama politik, keuangan, budaya dan sebagainya yang bekerja untuk kepentingan dan cita-cita Kapitalisme Global.

Begitu detail rencana itu, bahkan sebagian dari lembaga-lembaga dakwah telah dibeli.

Aneh bin ajaib, para kyai dan pemimpin umat Islam justru setuju. Maka jadilah NGO, lembaga dakwah dan organisasi profit menjadi boneka AS dan sekutu. Pada hakikatnya para kaki tangan itu telah menjual negaranya kepada “tuan tanah baru”. Tinggal menunggu waktu saja, kapan republik ini diakuisisi.

Inilah kematian bagi lembaga dakwah, juga institusi-institusi lain yang tergadai. Mereka menjual negara dan agama dengan harga sangat murah. Dan layak dikirimi karangan bunga duka cita bertuliskan:

“Selamat Jalan bagi Penjual Warisan Negara, Semoga Arwahmu Diterima oleh Pemilik Modal”. Selamat jalan!

Umat Islam Harus Bangkit
Persoalannya: bagaimana agar umat Islam tidak disebut bodoh dan dikatakan pintar. Jawabannya adalah harus berusaha sendiri. Tidak menggantungkan kepada siapapun, dengan berbagai cara serta jalan yang bisa ditempuh.

Misalnya membalas tudingan teroris dengan menjawab bahwa AS dan sekutu yang teroris. Atau ketika dicap bar-bar harus dijawab bahwa merekalah yang bar-bar, karena mencari uang dengan cara merampok dan menjarah!

Tudingan ekstrimis bisa dibalikan justru AS yang ekstrimis karena mencari uang dengan menghalalkan segala cara, bahkan melalui tata cara yang tidak terhormat, biadab dan kejam!

Menyebarkan berita, mencari fakta-fakta yang dapat menguatkan bahwa perang yang dibuat mereka adalah perang mencari uang. Tidak usah membawa-bawa agama. Bahwa sebuah retorika, propaganda, stigma dan cap yang dibuat oleh Barat bukanlah suatu fakta-fakta.

Meng-counter ajaran toleransi dengan pertanyaan: toleransi bagaimana yang dibutuhkan Vatikan dan Anglikan? Ketika mereka justru merestui aksi-aksi agresi militer sebagai pelaksanaan (katanya) wahyu tuhan. Kata-kata toleransi itu hanyalah untuk mereka yang kalah perang. Oleh karena takut pembalasan saudara-saudara seiman dari korban yang telah dibunuh secara kejam.

Mengkampanyekan secara gegap gempita agar tidak memilih lagi para pemimpin umat, NGO atau organisasiprofit oriented sekuler dan berorientasi Barat. Menyebarkan rencana-rencana makar mereka terhadap negara dan agama. Berani mengatakan kepada publik:

“Cukup sudah kau jual agama dan negara ini, apa yang akan kamu wariskan nanti untuk anak cucu; jangan lagi engkau obrak-abrik negeri ini mengatas-namakan demokrasi, kebebasan, HAM dan banyak lagi!”

Bagi umat Islam yang berkesempatan sebagai pejabat negara agar secara sunguh-sungguh “mempidanakan” siapa-siapa penjual negara ke pihak asing.

Umat Islam agar dengan segala cara dan upaya menghapus citra serta stigma buruk tentang Islam. Stigma itu tidak bakalan melekat kalau umat Islam itu sendiri melakukan perlawanan terhadap cap-cap yang di tuduhkan oleh Barat.

Ini adalah pekerjaan rumah (pe er) bagi seluruh umat Islam. Hanya umat sendiri yang bisa menghapus bukan orang lain. Meskipun AS dan para sekutu mempunyai dana tidak terbatas berasal dari 41 negara untuk propaganda. Itu bukan halangan. Pada hakikatnya, tujuan mereka adalah mencari uang. Maka ketika segala macam promosi dilakukan, tetapi ternyata merugi terus, maka dana propaganda niscaya bakal dihapus.

Hayo, bangkitlah umat Islam! Bangkitlah Nusantara Abad 21. Kembalikan MATAHARI terbit dari Timur!

Oleh : Hendrajit dan Ferdiansyah Ali, Peneliti Senior Global Future Institute

Sumber: theglobal-review.com

HASAN BASRI Model Ulama Pewaris Nabi

 

A. Mustofa Bisri
A. Mustofa Bisri 
Pengasuh Pesantren Raudlatut Talibin, Rembang, Jawa Tengah

 

Ulama atau ‘istilah sosio-kultural’-nya Kiai yang sering disebut — termasuk oleh mereka yang menganggap diri kiai termasuk ulama — sebagai pewaris Nabi, entah mengapa, akhir-akhir ini banyak dibicarakan dan dipertanyakan orang. Boleh jadi karena gelar ulama atau kiai tidak ‘akademis’, sehingga setiap orang bisa dengan leluasa menyandangnya tanpa diganggu-gugat, lalu di mana-mana pun masyarakat bisa menjumpai orang yang berpredikat ulama atau kiai. Maka bermunculanlah istilah-istilah seperti: Ulama Plus; Kiai Intelek; Kiai mBeling; Kiai Artis; Ulama Masa Kini; dsb. Dan orang pun bingung.

Istilah ulama itu sendiri, di kita, sudah mengalami pemekaran sedemikian rupa, sehingga bagi mereka yang kurang memahaminya memang mudah terkecoh dan bingung. Sampai kini, paling tidak ada tiga ‘macam’ istilah ulama dengan pengertian yang berbeda satu sama lain: 1. Ulama ‘Quran’ (atau katakanlah: istilah yang asli); 2. Ulama istilah Arab; dan 2. Ulama istilah Indonesia.

Ulama, istilah Arab, merupakan bentuk jamak dari ‘alim; maknanya: ilmuwan atau umumnya orang pinter. Dengan istilah ini, tokoh macam Isaac Newton; Galileo Galilei, Charles Darwin, bahkan BJ Habibie, Kwik Kian Gie atau Arief Budiman, termasuk ulama.

Ulama istilah Indonesia yang dalam penggunaanya tidak selalu berbentuk jamak, mempunyai pengertian yang lebih longgar lagi. Sebab di sini definisi tidak penting. Yang penting pengakuan dan pengiklanan, terutama dari pihak-pihak yang mempunyai pengaruh semisal pemerintah, masyarakat, atau pers. Misalnya Anda terpilih menjadi pengurus MUI, Anda bisa otomatis disebut Ulama.

Untuk ulama istilah ‘Quran – satu-satunya kelompok hamba Allah yang benar-benar takut kepada Allah – yang sering disebut-sebut sebagai para pewaris nabi, saya hanya ingin memberi contoh seorang tokoh yang paling – atau setidaknya termasuk yang paling – pas menyandang sebutan mulia itu, Hasan Basri.

Di kalangan ulama sendiri, Hasan Basri dikenal sebagai tokoh panutan. Tempat bertanya yang senantiasa memiliki jawaban yang memuasakan dan dapat dipertanggungjawabkan. Kepribadiannya – yang ditunjang oleh keluasan ilmu dan ketulusan amal – sangat luar biasa. Kesetiaannya kepada kebenaran tak tertandingi. Apabila membela atau menyatakan kebenaran tokoh yang satu ini laa yakhaafu laumata laaimin, tidak takut dikecam; tidak menghitung resiko. Pernah kepada para ‘kiai’ yang dijumpainya suka antri di depan pintu rumah-rumah para penguasa, tokoh karismatik ini menegur dengan kata-kata antara lain : “Kalian tinggalkan apa yang ada pada kalian, trompah-trompah kalian sampai menjadi longgar kalian bawa hilir mudik sowan mereka dengan memikul ilmu yang mereka bebankan ke pundak-pundak kalian sampai pintu-pintu mereka, sedangkan mereka sebenarnya tidak begitu memerlukan kalian. Seandainya kalian duduk-duduk saja di tempat kalian, sampai mereka yang datang kepada kalian, tentulah kalian akan lebih berharga di mata mereka ……” Yang beliau maksud dengan “mereka” dalam teguran itu, tentu, adalah para penguasa, atau – dalam bahasa kita sekarang – umara.

Ketika Mu’awiyah mangkat pada tahun 60 H (618 M), putranya yang bernama Yazid menduduki kursi yang ditinggalkannya melalui suatu pengangkatan, bukan pemilihan (umum). Para ulama, sebetulnya, kurang ‘sreg’ dengan langkah Mu’awiyah itu. Sebab dengan demikian, dimulailah tradisi ‘suksesi’ baru di dalam Islam yang berlawanan dengan tradisi al khulafaur rasyidun sebelumnya: suksesi dengan musyawarah dan pemilihan, bukan melalui sistem “putra mahkota”.

Sepanjang kekuasaaan dinasti Amawiyah, tak ada ulama yang berani melontarkan kritik atas sistem ‘kekuasaan turun-temurun’ itu, sistem yang oleh Abdurrahman putra sahabat mulia Abu Bakar Siddiq disindir sebagai “heraklisme” (merujuk kepada Hirakl, raja Persia, yang menganut sistem suksesi “turun temurun”). Bahkan seorang tabi’in agung dan alim seperti Ibnu Sirin dan Sya’by ketika diminta pendapat perihal “heraklisme” itu, diam saja, no comment.

Hanya dialah, tokoh yang sedang kita bicarakan ini, yang berani melancarkan kritik secara “terbuka” (bukan “tertutup”, face to face, seperti umumnya disarankan para pejabat). Dia kerapkali menulis surat kepada Abdul Malik bin Marwan, khalifah keempat dalam dinasti Amawiyah, dan gubernurnya di Irak, Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafy.

Tokoh ini juga dikenal sebagai seorang ‘abid (ahli ibadah), zahid (seorang asketis yang menjauhi kesenangan duniawi) dan salik (penempuh jalan untuk mendekati Allah swt). Ditengah-tengah gaya hidup para pejabat dinasti Amawiyah yang penuh foya-foya, rakus, hedonistis dan pamer kekayaan, dia menunjukan protesnya dengan sikap kesederhanaan dan asketisme. Karena itu, beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai sikap wara’, menjauhi kesenangan dan hedonisme. Tak heran, jika NU mendaulat tokoh ini bersama Imam Ghazali sebagai peletak dasar tasawwuf sunni.

Siapakah nama tokoh itu?

Dia, tak lain, adalah Hasan Basri dari Negeri Basrah yang nama lengkapnya Abu Sa’id Al Hasan ibn Abil Hasan Al Bashry, seorang tabi’in (generasi setelah sahabat) agung yang lahir dua tahun menjelang berakhirnya kekuasaan Umar bin Khattab dan wafat pada bulan Rajab, 110 H (Oktober 728 M).

Banyak orang-orang tua yang hendak memperoleh berkah dari keagungan tokoh ini dengan memberi putera-putera mereka nama “Hasan Basri”. Tafa’ul, istilah orang-orang pesantren. Dalam bahasa kita, artinya: mengharap “hoki” . Tentu tidak semua orang tua beruntung dapat “berkah” itu, dan menyaksikan putera mereka mewarisi sifat-sifat yang dimiliki tokoh tersebut. Bahkan, entah kenapa, ada yang malah sial beroleh hal yang sebaliknya. Na’udzu billah.****

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Jawa Pos, red.)

Pemberantasan Korupsi dalam Perspektif Islam

Fahmi Salim, M.A. 
Pengurus Majelis Tarjih PP Muhammadiyah dan Wasekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)

Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (Q.s. Ali Imran: 161)

Ghulul secara bahasa adalah “akhdzu syai wa dassuhu fi mata’ihi” (mengambil sesuatu dan menyembunyikannya dalam hartanya). Pada mulanya ghulul adalah istilah untuk penggelapan harta rampasan perang sebelum dibagikan kepada yang berhak (lihat Mu’jam Lughat al-Fuqaha, hal.334). Oleh karena itu, Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengartikannya dengan al-khiyanat fil maghnam (pengkhianatan pada rampasan perang). Lebih jauh, Ibnu Qutaybah menjelaskan bahwa perbuatan khianat dikatakan ghulul karena orang yang mengambilnya menyembunyikannya pada harta miliknya (lihat Syarh al-Zarqani ‘ala Muwattha’ Imam Malik, vol.3/37). Asal kata ghulul, menurut al-Rummani, dari kata ghalal yang artinya masuknya air ke dalam sela-sela pohon, khianat disebut ghulul karena masuk harta yang bukan miliknya secara tersembunyi dan samar dari jalan yang tidak halal. (lihat Tafsir al-Manar, vol.4/175)

Ibnu Abbas, Mujahid, Hasan al-Basri dan lain-lain memaknai ghulul adalah pengkhianatan. Ayat ini adalah penegasan dari Allah yang membersihkan Rasulullah SAW dari segala tuduhan khianat dalam menunaikan hak, amanah dan pembagian rampasan perang dan lain-lain (lihat Tafsir Ibnu Katsir vol.1/576). Setiap individu muslim, wabil khusus para pemimpin dan pejabat publik harus mencontoh akhlak Rasulullah SAW saw dalam menegakkan system pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean government).

Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa istilah rujukan mengenai korupsi. Di dalam ayat yang kita bahas ini Q.s. 3:161, korupsi disebut ghulul. Secara harfiah, ghulul berarti pengkhianatan terhadap amanah. Karena inti korupsi adalah penyalahgunaan kepercayaan untuk kepentingan pribadi, atau pencurian melalui penipuan dalam situasi yang mengkhianati kepercayaan. Selain itu dalam Al-Qur’an korupsi disebut dengan kata al-suht (Q.s. al-Maidah: 42, 62, 63). Al-Suht didefinisikan oleh sahabat Nabi SAW Abdullah ibn Mas’ud ra (w.32 H) sebagai ‘menjadi perantara dengan menerima imbalan antara seseorang dengan pihak penguasa untuk suatu kepentingan’ (Ahkam Al-Qur’an al-Jasshash, vol.4/84). Khalifah Umar ibn al-Khattab ra (w.24 H) mengemukakan al-suht adalah ‘bahwa seseorang yang memiliki pengaruh di lingkungan sumber kekuasaan menjadi perantara dengan menerima imbalan bagi orang lain yang mempunyai kepentingan sehingga si penguasa meluluskan keperluan orang itu’ (Ibid., vol.4/85).

Dalam hadis-hadis Nabi SAW juga sangat banyak rujukan mengenai korupsi, baik menyangkut jenis-jenis korupsi seperti risywah (penyuapan), penerimaan hadiah oleh para pejabat, penggelapan dan lain-lain, maupun menyangkut kebijakan dan strategi Nabi SAW dalam memberantas korupsi.

Mengomentari hadis larangan menerima hadiah bagi pejabat, Imam al-Syafi’i (w.204 H) dalam kitab al-Umm (vol.2/63) menulis, “Apabila seorang warga memberikan hadiah kepada pejabat, maka jika hadiah itu dimaksudkan untuk memperoleh –melalui pejabat itu- suatu hak atau yang batil, maka haram atas pejabat itu menerima hadiahnya. Itu karena haram atasnya mempercepat pengambilan hak yang belum waktunya untuk kepentingan orang yang ia menangani urusannya (dengan terima imbalan) karena Allah mewajibkannya mengurus hak tersebut, dan haram pula atasnya mengambilkan suatu yang batil untuk orang itu dan imbalan atas pengambilan suatu yang batil itu lebih haram lagi. Demikian pula haram atasnya jika ia menerima hadiah itu agar ia menghindarkan pemberi hadiah dari sesuatu yang tidak disukai. Adapun jika ia dengan menerima hadiah itu bermaksud menghindarkan pemberi hadiah dari suatu kewajiban yang harus ditunaikannya, maka haram atas pejabat itu menghindarkan si pemberi hadiah dari kewajiban yang harus dilakukannya”.

Fatwa al-Syafi’i itu gamblang mengharamkan segala bentuk hadiah (gratifikasi) atas pejabat dengan motif-motif berikut, a) si pemberi mendapatkan haknya lebih cepat dari waktunya yang semestinya, b) si pemberi memperoleh suatu yang batil seperti kasusnya dimenangkan atau dibebaskan dari tuntutan hukum padahal bukti menunjukkan sebaliknya, c) si pemberi dibebaskan dari sebagian kewajiban yang harus ia tunaikan seperti pajak yang nilainya dikecilkan dari aslinya, d) pemerasan di mana si pemberi dipaksa menyuap guna mencegah kerugian yang akan mengancam diri dan kepentingannya.

Termasuk korupsi adalah segala tindakan penggunaan uang pelicin oleh seseorang, meski secara ril tidak merugikan keuangan Negara dan rakyat, akan tetapi tindakan itu mengakibatkan lumpuhnya penegakan hukum. Di antara ulama yang keras mengharamkannya adalah Ibnu Taymiah. Beliau kemukakan hal ini dengan landasan hadis yang melaporkan kisah anak muda yang bekerja pada sebuah keluarga dan berselingkuh dengan istri majikannya. Untuk menghindari pengaduan sang majikan dan penerapan sanksi terhadapnya, ayah anak muda itu menghadiahkan 100 ekor kambing dan seorang pelayan sebagai ‘uang damai’ atas kelakuan anaknya. Perkara itu sampai juga kepada Rasulullah SAW, lalu beliau perintahkan agar harta itu dikembalikan dan para pihak yang berselingkuh dihukum sesuai aturan yang berlaku. (Majmu’ al-Fatawa, vol.27/202-203).

Pemberantasan Korupsi Ala Rasulullah
Beberapa strategi yang dilakukan Nabi SAW dalam menangani korupsi adalah melakukan pemeriksaan terhadap para pejabat seusai menjalankan tugas. Selain itu Rasulullah SAW berupaya menimbulkan efek kejiwaan yang dahsyat sehingga masyarakat menghindari korupsi. Hal ini dilakukan, misalnya, dengan penolakan Nabi SAW untuk menyalatkan jenazah koruptor (cukup disalatkan oleh sahabatnya saja, lihat hadis riwayat an-Nasa’i, ‘Salatkanlah teman kalian itu –aku sendiri tidak mau menyalatkannya karena dia telah lakukan ghulul saat berjuang di jalan Allah, ketika kami periksa barang-barangnya, kami temukan manik-manik orang yahudi yang harganya tidak sampai 2 dirham’, Kitab al-Janaiz, no.1933).

Beliau menyatakan koruptor akan masuk neraka meski nominalnya kecil (riwayat Sahih Muslim no.182 dan 114, “Saat perang Khaibar seorang diduga syahid tetapi Nabi SAW mengatakan orang itu masuk neraka karena menyembunyikan selimut atau mantel sebelum ghanimah dibagikan, Nabi SAW suruh Umar umumkan bahwa tidaklah masuk surga kecuali orang-orang yang beriman”). Selain itu, di akhirat kelak para koruptor akan sangat dihinakan, dipermalukan di hadapan Allah dengan saksi barang-barang yang ia korupsi di dunia (HR Abu Humaid al-Sa’idi dalam Sahih Bukhari no.6145). Pelaku suap, penerimanya dan kurirnya akan mendapat laknat Allah (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Nabi SAW tegaskan bahwa sedekah atau infak dari hasil korupsi tidak diterima Allah (Sahih Muslim, Kitab Thaharah : 114). Juga doa koruptor tak akan dikabulkan oleh Allah (Sahih Muslim).

Rasulullah SAW juga memperingatkan agar koruptor tidak dilindungi, disembunyikan atau ditutupi kejahatannya. Barang siapa melakukan demikian, maka ia sama dengan pelaku korupsi itu sendiri. Dari Samurah bin Jundub ra, ia berkata Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyembunyikan koruptor, maka ia sama dengannya”. (HR Abu Dawud no. 2716 Kitab al-Jihad Bab Nahyu ‘an Satr ‘ala Man Ghalla, dan al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir no.7023).

Adapun hukuman untuk koruptor adalah Ta’zir, dari yang paling ringan dengan kurungan penjara, lalu memecatnya dari jabatan dan memasukkannya dalam daftar orang tercela (tasyhir), penyitaan harta untuk Negara, hingga hukuman mati, sesuai besar kecilnya jumlah yang dikorupsi dan dampaknya bagi masyarakat. Wallahu a’lam.

 

Inilah Fakta di Balik Alasan Daging Babi tak Layak Konsumsi

Allah SWT sudah mengharamkan daging babi untuk dimakan kaum Muslimin. Itu saja sebenarnya sudah cukup bagi kita untuk menjauhinya. Namun di balik itu juga ada banyak fakta mengapa babi memang tak layak dikonsumsi manusia. 

 
Berikut di antaranya:
  • Apakah Anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di lehernya? Ya, karena mereka tidak memiliki leher, sesuai dengan anatomi alamiahnya.  Bagi orang yang beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher.
  • Konsumen daging babi sering mengeluhkan bau pesing pada daging babi. Menurut penelitian ilmiah, hal tersebut disebabkan karena praeputium babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke dalam daging.
  • Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia melahap semua makanan yang ada di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada tersisa.
  • Kadang ia mengencingi kotorannya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali. Ia memakan sampah busuk dan kotoran hewan. Babi adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama jika dibiarkan. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
  • Penyakit-penyakit cacing pita merupakan penyakit yang sangat berbahaya yang dapat terjadi karena mengonsumsi daging babi. Cacing berkembang di bagian usus 12 jari di tubuh manusia, dan beberapa bulan cacing itu akan menjadi dewasa. Jumlah cacing pita bisa mencapai sekitar ”1000 ekor dengan panjang antara 4 – 10 meter”, dan terus hidup di tubuh manusia dan mengeluarkan telurnya melalui BAB (buang air besar).
  • Daging babi merupakan penyebab utama kanker anus & kolon. Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis, terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000.  
(islampos/berbagai sumber)

 

 

Di Balik Perbedaan Hukum Antara Urin (Air Kencing) Bayi Laki-Laki Dan Perempuan

bayi

Di antara tujuan utama dari syari’at Islam adalah mempertahankan/menjaga jiwa manusia. Dan berdasarkan hal tersebut, maka datang hukum-hukum syari’at dalam masalah ini dalam jumlah yang banyak. Dan di antara hukum-hukum tersebut adalah perintah untuk membersihkan diri dan bersuci dari najis yang hakiki (seperti air kencing dl). Kemudian kesucian dari najis dijadikan sebagai kunci dan syarat yang harus ada setiap kali shalat.

Syari’at Islam telah memperinci dengan perinciian yang sangat rinci dalam masalah najis ini. Karena najis-najis ini adalah tempat-tempat di mana di dalamnya terdapat banyak sumber (penyebab) penyakit. Dan di dalam syariat Islam terdapat bermacam-macam pembersih/penyuci dari najis-najis tersebut. Hal itu tergantung pada jenis najis dan bentuknya. Di antara najis-najis tersebut ada yang bisa dihilangkan dan dibersihkan dengan mencucinya dengan air -dan ini kebanyakannya- atau menuangkan air di atasnya. Dan antaranya juga ada yang dibersihkan dengan menggosoknya dengan tanah, atau dengan menghilangkannya atau dengan merubahnya ke zat lain … Dan cara-cara lain untuk membersihkan.

Dan syari’at Islam membagi najis menjadi dua, yaitu najis mughalazhah (besar/berat) dan mukhaffah (ringan). Dan dari pembedaan dan pembagian ini ada yang berkaitan dengan pembedaaan antara air kencing bayi laki-laki -yang hanya mengonsumi ASI saja- dengan air kencing bayi perempuan. Maka syari’at Islam menjadikan air kencing bayi laki-laki sebagai bagian dari najis mukhaffah (ringan) dan cukup dibersihkan dengan percikan air di atasnya, padahal syari’at menjadikan air kencing bayi wanita sebagai bagian dari mughalazhah (besar/berat) dan tidak sempurna cara penyucian/pembersihannya kecuali dengan mencuci sisa-sisanya dengan air.

Ilmu pengetahuan modern telah mengungkap sebuah rahasia di antara beberapa rahasia di balik pembedaan antara air kencing bayi laki-laki dan bayi perempuan, dan menetapkan bahwasanya di sana ada perbedaan di antara keduanya.

Dan dalam tulisan ini, kami akan membawakan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membedakan antara air kencing bayi laki-laki (yang masih menyusu) dan bayi perempuan(yang masih menyusu). Dan kami akan membawakan sejumlah perkataan ulama dalam masalah ini. Dan juga kami akan mengetengahkan suatu eksperimen ilmiah modern yang dilakukan dalam masalah ini.

Hadits-Hadits Nabi Yang Membedakan Antara Air Kencing Bayi Laki-Laki Dan Bayi Perempuan

Kencingnya seorang bayi atau anak-anak adalah suatu hal yang banyak terlihat dan terjadi berulang-ulang di setiap keluarga dan rumah. Oleh sebab itu datang sejumlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah ini. Dari Ummu Qais binti Mihshan radhiyallahu ‘anha:

“أنها أتت بابن لها صغير لم يأكل الطعام إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأجلسه رسول الله صلى الله عليه وسلم في حجره فبال على ثوبه فدعا بماء فنضحه ولم يغسله” أخرجه البخاري في صحيحه 1/ 90، برقم: 221، وأخرجه مسلم 1/ 238، برقم: 287.

” Bahwa dia datang membawa anak laki-lakinya yang masih kecil yang belum memakan makanan (masih menyusu) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammendudukkannya (bayi tersebut) di pangkuan beliau, kemudian anak itu kencing di baju beliau. Lalu beliau meminta air, kemudian memercikinya (dengan air) dan tidak mencucinya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahihnya no. 221 dan Muslim no. 287)

Dan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“كان النبي صلى الله عليه وسلم يؤتى بالصبيان فيدعو لهم, فأتي بصبي فبال على ثوبه فدعا بماء فأتبعه إياه ولم يغسله” أخرجه البخاري في صحيحه 5/ 2338، برقم: 5994.

” Pernah dibawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa bayi laki-laki, lalu beliau mendo’akan mereka. Lalu dibawa kepada beliau seorang bayi laki-laki (yang masih menyusu), kemudian bayi itu kencing di baju beliau. Kemudian beliau meminta air, kemduian menuangkannya (memercikkan) ke baju yang terkena kencing tersebut dan tidak mencucinya.” (HR. al-Bukhari no. 5994)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Abi as-Samh radhiyallahu ‘anhu:

“يغسل من بول الجارية ويرش من بول الغلام” أخرجه أبو داود في سننه 1/ 156، برقم: 376، وصححه الألباني في صحيح أبي داود 1/ 75، برقم: 362.

” Air kencing bayi perempuan dicuci, sedangkan air kencing bayi laki-laki cukup disiram (diperciki air).” (HR. Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 362)

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“بول الغلام ينضح عليه, وبول الجارية يغسل”, قال قتادة: هذا ما لم يطعما فإذا طعما غسل بولهما أخرجه أحمد في مسنده 1/ 76، برقم: 563، وصحح إسناده شعيب الأرنؤوط في تعليقه على المسند

” Air kencing bayi laki-laki (dibersihkan dengan) disiram/diperciki air dan air kencing bayi perempuan dicuci.” Qatadah rahimahullah berkata:” Ini kalau keduanya belum memakan makanan, sedangkan jika sudah memakan makanan maka dicuci air kencing dari keduanya.” (HR. Ahmad dalam Musnad beliau no. 563, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Ta’liq beliau terhadap al-Musnad)

Dari Ummi Kurzin al-Khuza’iyyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“أتي النبي صلى الله عليه وسلم بغلام فبال عليه فأمر به فنضح, وأتي بجارية فبالت عليه فأمر به فغسل” أخرجه أحمد في مسنده 6/ 440، برقم: 27517، وقال شعيب في تعليقه على المسند: صحيح لغيره

” Pernah didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seorang anak laki-laki (bayi), lalu ia mengencingi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau memerintahkan (mengambil air) lalu dipercikinya (bekas kencing tersebut). Dan pernah didatangkan kepada beliau seorang anak (bayi) perempuan lalu mengencinginya, kemdian ia memerintahkan (mengambil air) lalu dicucinya. (HR Ahmad di dalam Musnad beliau no. 2751. Syu’aib al-Arna’uth dalam Ta’liq beliau terhadap al-Musnad berkata: Shahih Lighairihi)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang semakna.

Perkataan Para Ulama Seputar Hadits-Hadits Ini

Dalam sebagian lafazh hadits Ummu Qais binti Mihshan radhiyallahu ‘anha disebutkan:

“بابن لها صغير لم يأكل الطعام”

“(dia datang) Dengan membawa anaknya yang masih kecil dan belum memakan makanan.” (al-Muwatha’ karya imam Malik rahimahullah)

Dan maksudnya adalah bahwa dia (bayi tersebut) belum mengonsumsi sesuatu selain ASI. Ibnu Hajarrahimahullah berkata:” Yang dimaksud dengan makanan adalah selain ASI yang ia minum (dari ibunya), kurma yang ditahnik-kan kepadanya dan madu yang dijilatnya untuk pengobatan dan lain-lain. Maka seakan-akan yang dimaksud adalah bahwa dia belum diberi nutrisi dengan selain ASI secara mandiri.”(Fathul Bari 1/326)

Adapun makna النضح adalah memercikan dengan air. Al-Khaththabi rahimahullah berkata:” An-Nadh (memercikan) adalah melewatkan (mengalirkan) air di atas suatu benda dengan cara yang halus tanpa disertai gosokan dan menekannya. Sedangkan al-Ghusl (mencuci) dilakukan dengan adanya tekanan dan perasan.” (Syarh Sunnah karya al-Baghawai 2/84-85)

Pembedaan Antara Air Kencing Bayi Laki-Laki Dan Perempuan Ditinjau Dari Penemuan Ilmiah Modern

Penelitian ilmiah modern –yang dilakukan di bidang ini- mengungkapkan adanya perbedaan antara urin (air kencing) bayi anak dan bayi perempuan. Dan salah satu penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan oleh Ashil Muhammad Ali dan Ahmad Muhammad Shalih dari Universitas Dohuk, Irak. Dan kesimpulan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

Telah selesai proses pengkajian persentase keberadaan bakteri dalam urin/air kencing bayi dalam masa menyusu dan bayi yang baru lahir, di mana mereka mengumpulkan sampel urin bayi secara acak yang berjumlah 73 bayi (35 perempuan dan 38 laki-laki). Mereka mengklasifikasikan/mengelompokkan mereka ke dalam empat kelompok umur; umur di bawah satu bulan, umur satu bulan sampai dua bulan, kemudan (dari dua bulan) sampai tiga bulan dan kemudian lebih dari tiga dengan kemungkinan meningkatnya konsumsi makanan. Sampel dikumpulkan dan diangkut langsung untuk diperiksa secara laboratoris dan proses terus berlanjut selama beberapa bulan, dengan mempertimbangkan kemungkinan tingkat maksimum sterilisasi dan menghindari kontaminasi.

Dan kajian tersebut menggunakan metode yang digunakan Dr. Hans Christian Gram, yang ditemukan pada tahun 1884 dalam pewarnaan bakteri (metode Gram staining), yang mana warna ungu menunjukkan bakteri Gram positif dan warna merah untuk negative. Semua sampel yang diuji dengan memilih bidang bakteri mikroskopis untuk menghitung jumlah bakteri dengan menggunakan standar pembesaraan 100 kali lipat. Dan ditemukan bahwa semua Gram negatif, dan diklasifikasikan bahwa ia masuk sebagai bakteri Escherichia Coli.

Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Pertama: Pada kelompok usia nol sampai 30 hari, prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi perempuan 95,44% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan mencapai 41,9 sedangkan pada bidang yang sama untuk bayi laki-laki hanya berjumlah 2 saja.

Kedua: Pada kelompok umur (dari satu bulan sampai dua bulan) prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi perempuan 91,48% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan mencapai 24,1 sementara jumlah dalam bayi laki-laki hanya 2,25.

Ketiga: Pada kelompok usia 2-3 bulan, prosentase keberadaan bakteri dalam urin bayi perempuan 93,69% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan mencapai 24,1 sementara jumlah pada kasus bayi laki-laki hanya 1,6.

Keempat: Pada kelompok usia lebih dari 3 bulan, prosentase bakteri dalam urin bayi perempuan 69% lebih banyak dibandingkan pada urin bayi laki-laki, di mana jumlah bakteri di bidang mikroskopis untuk urin bayi perempuan 13,9 sementara dalam kasus urin bayi laki-laki jumlahnya 6,8.

Dan di antara perbandingan di antara jenis yang sama ki cermati bahwa prosentase jumlah bakteri pada perempuan (urin bayi perempuan) terus menurun dengan bertambahnya usia, di mana prosentase tersebut pada kelompok usia kurang dari satu bulan adalah 41,9. Sedangkan pada kelompok usia di atas tiga bulan kita cermati bahwa prosentasenya turun menjadi 13,9 bertolak belakang dengan apa yang diamati pada laki-laki. Di mana prosentase bakteri dalam kelompok usia kurang dari dua bulan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang ada pada kelompok usia ddi atas tiga bulan ( yaitu 6,8).

Dan kita simpulkan dari hal ini bahwa prosentase bakteri pada perempuan adalah tinggi sejak hari-hari awal usianya, tanpa melihat perkembangan usia dan terlepas dari apakah ia sudah mulai mengonsumsi makanan atau tidak. Adapun laki-laki maka keberadaan bakteri jauh lebih rendah pada hari-hari pertama usianya. Dan prosentase ini mulai meningkat secara bertahap dengan berlalunya waktu, terutama ketika melewati bulan ketiga dari usianya, yang mana meningkatnya kemungkinan mulai peningkatan prosentase tersebut dengan mengonsumsi makanan .(dinukil dari: http://www.nooran.org/con8/Research/438.htm)

Dan dalam penelitian lain, Dr Shalahuddin Badr menetapkan bahwa di sana ada beda antara urin bayi laki-laki yang masih menyusu dengan urin perempuan. Dan kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Ilmu pengetahuan pada hari ini menetapkan bahwa urin mengandung bakteri pathogen dalam jumlah yang besar, yang menyebabkan penularan banyak jenia penyakit ganas. Di antara bakteri ini adalah:

Bakteri E. coli (Escherichia Coli), staphylococcus, difteri, bakteri streptokokus, jamur candida, dan lain-lain. Oleh sebab itu wajib mencuci, membersihkan tubuh dan pakaian dari urin ini sehingga tidak terkena penyakit yang disebakan oleh salah satu dari jenis bakteri pathogen ini.

Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa urin anak yang baru lahir adalah steril, dan tidak ada bakteri jenis apapun di dalamnya, tapi kemudian setelah itu ia membawa bakteri, dan kebanyakan kontaminasi bakteri berasal dari saluran pencernaan.

Dan Dr Shalahuddin dalam penelitiannya menegaskan bahwa urin bayi laki-laki yang masih menyusu, yang hanya mengonsumsi ASI saja (susu alami) tidak mengandung bakteri jenis apapun. Sementara pada bayi perempuan yang masih menyusu mengandung beberapa jenis bakteri, dan dia mengembalikan hal ini kepada perbedaan jenis kelamin.

Karena saluran kencing perempuan lebih pendek daripada saluran pada laki-laki, di samping sekresi kelenjar prostat yang ada pada laki-laki, yang berperan untuk membunuh kuman. Oleh karena itu urin bayi laki-laki –yang belum memakan makanan- tidak mengandung bakteri berbahaya. Dan sebagai akibat dari perbedaan anatomi sistem pembuangan urin pada perempuan dan laki-laki, maka perempuan lebih rentan terhadap kontaminasi bakteri dibandingkan laki-laki. Maka suatu hal yang mudah untuk berpindahnya bakteri ke kandung kemih pada wanita, terutama bakteri yang berpindah dari ujung sistem pencernaan dan berhubungan dengan saluran kemih. Dan kebanyakan bakteri tersebut adalah bakter coliform.

Dan dengan melihat sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam maka terlihat jelas bahwa urin perempuan mengandung bakteri penyebab infeksi, oleh karena itu harus dicuci. Hal itu karena struktur anatomi sistem pembuangan urin, dan kecilnya saluran kemih jika dibandingkan dengan sistem pada laki-laki.

Ilmu pengetahuan hari ini telah mengungkap bahwa menyusui bayi dengan selain ASI, seperti susu formula atau dengan makanan lainnya, baik yang alami maupun buatan menyebabkan terjadinya kontaminasi urin, dimana ASI mencegah keberadaan bakter coliform dalam urinnya. Dan di sana ada beberapa jenis sukrosa di dalam ASI yang mencegah menempelnya bakteri tersebut sel epitel di dalam sistem kemih, yang menyebabkan tidak terjadinya kontaminasi urin dengan bakteri coliform, dan dengan demikian urin menjadi steril (Diringkas dari British Medical Journal)

Maka sisi keajaibannya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui hal tersebut semenjak 14 abad yang, padahal di zaman beliau shallallahu ‘alaihi wasallam belum ada mikroskop dan alat-alat penelitian canggih yang lainnya. Ini semakin menguatkan iman kita akan kebenaran ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, danbahwasanya yang beliau bawa adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan juga membuktikan kepada Barat dari kalangan orang kafir dan orang-orang yang kagum pada mereka bahwa ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wahyu dari Allah, bukan karangan beliaushallallahu ‘alaihi wasallam. Maka tidaklah kalian beriman? Wallahu Ta’ala A’lam.

(Sumber: الإعجاز العلمي في أحاديث التفريق بين بول الغلام الرضيع وبول الجارية dari http://www.forsanhaq.com/showthread.php?t=242316. Diringkas, diterjemahkan dan diposting oelh Abu Yusuf Sujono)