Film-film bertema politik yang masih relevan dengan situasi di Indonesia saat ini

 

All the President’s Men

Perjuangan Wartawan Sejati

Kisah yang menceritakan tentang seorang wartawan dari Washington Pos yang bernama Bob Woodwart yang ingin mengangkat kasus pencurian Watergerte yang melibatkan orang dalam atau mantan petinggi-petinggi Presiden Richard Nixon.

Dalam kasus pencurian ini tertangkap lima orang tersangka yang juga terlibat dalam kegiatan CIA, yang salah satunya bernama Mr. Charles Colson yang dulunya bekerja sebagai seorang konsultan Gedung putih selain itu juga seorang penulis dan agen CIA. Kelima tersangka ini langsung dibawa ke pengadilan untuk di proses dan dimintai keterangan, mendengar itu Woodwart segera pergi ke pengadilan dan mendengarkan dan melihat apa yang sedang terjadi di ruang sidang tersebut.
 
Di ruang inilah ia bertemu dengan seorang saksi yang dihadirkan , ia segera menanyakan bukti-bukti atau informasi tentang kasus yang sedang terjadi. Tapi sayangnya saksi malah menghindar dan meminta Woodwart menghentikan peliputannya mengenai kasus ini.
 
Dengan bukti yang masih dikatakan belum cukup kuat untuk mengungkapkan Fakta Woodwart pun kembali ke Kantor dan mempresentasikan kepada Pimpinan redaksi tapi sayang Informasi yang ia dapatkan malah menjadi bahan ocehan orang-orang tersebut, sampai-sampai ia diancam akan dipecat dari Washington Post. Woodwart yang baru sembilan bulan bekerja di situ terbilang masih dianggap remeh oleh orang-orang di sekitar tempat kerjanya.
 
Disinilah kisah bermula ketika ia masih berambisi untuk membongkar kebenaran tentang beita yang ia dapat ia menulis berbagai bukti dengan mesin TIK nya dan meletakkan di meja salah satu staf dikantornya tapi kertas yang ia tulis malah dibawa oleh salah satu karyawan lainnya kemejanya. Melihat hal ini timbul kejanggalan dalam hatinya dan iapun kembali menulis bukti yang lainnya dan kembali meletakan tulisan tersebut di tempat semula, dan kemudian ia memperhatikan salah satu karyawan yang tadi mengambil tulisannya dan ternyata karyawan tersebut kembali mengambil tulisan woodwart. Melihat hal itu woodwart langsung menghampiri karyawan tersebut dan menanyakan apa maksud orang itu mengambil tulisannhya.
 
Setelah sampai di meja karyawan senior tersebut alangkah terkejutnya ia ternyata karyawan itu mengambil bukti tulisan woodwart ke dalam tulisannya. woodwart merasa tidak senang dan merampas tulisannya kembali. woodwartpun kembali ke meja nya tapi karyawan tadi kembali menyusul ia menanyakan tentang apa yang di ketahui Woodwart dan dari sinilah awal dari persahabatan mereka, Woodwart berteman dengan Carl Berninstein yang juga menjabat sebagai wartan di Washington Pos.
 
Setiap hari mereka mencari informasi tentang bukti yang akan memperkuat berita mereka selagi orang yang mereka kenal mereka hubungi untuk dimintai keterangan tapi tak seorangpun yang mau memberikan informasi yang sejelasnya. sampai pada sutu hari mereka menemui teman sekerja yang ternyata pernah berhubungan dengan salah satu tersangka. mereka meminta perempuan ini memberikan informasi tentang orang-orang yang pernah terlibat di gedung putih. Awalnya mereka juga sempat ditolak oleh perempuan ini tapi kemudian perempuan ini setuju dan memberikan data yang mereka butuhkan.
 
Dari data yang didapat inilah mereka mulai menyelidiki kasus yang sedang terjadi satu persatu dari daftar nama mereka hubungi dan mereka datangi tapi semuanya menolak untuk dimintai keterangan karena beberapa dari mereka tidak percaya bahwa Woodwart dan Carl adalah wartawan dari Washington Post melainkan dari New York Times. Sampai suatu hari terjadilah rapat Redaksi yang membicarakan kasus yang mereka angkat ini tapi karena bukti yang Carl dan Woodwart dapatkan belum banyak mereka malah di marahi.
 
Begitu berat beban yang mereka hadapi belum lagi bahaya yang mengancam keselamatan mereka karena mengankat kasus serius ini. Tapi hal ini sama sekali tidak membuat mereka putus asa sampai suatu hari Carl kembali mendatangi rumah salah satu mantan Petinggi digedung putih dan menanyakan kembali tentang Re-Rekayasa ini awalnya perempuan ini tidak ingin bertemu Carl lagi tapi Carl berpura-pura hanya datang untuk bertamu dan minum kopi akhirnya perempuan ini mempersilakan ia masuk juga dari sinilah Carl berusaha mengorek informasi dengan kecerdikannya sedikit teka-teki terpecahkan juga.
Carl membawa bukti yang ia dapat kepada Woodwart disini lah mereka mulai menulis tapi ternyata bukti yang di dapat masih harus dipecahkan juga agar menjadi fakta yang sejelas-jelasnya, dan akhirnya mereka sepakat kembali menemui perempuan tadi. Setelah bukti benar-benar jelas mereka segera menuliskan berita di Washington Post. dan dari sinilah mereka berhasil memecahkan kasusu tersebut dan menjatuhkan president Richard Nixon dengan berita yang setiap hari terbit di Washington Post
 

The Ghost Writer (2010)

Directed by Roman Polanski Produced by Roman Polanski, Robert Benmussa, Alain Sarde, Patrick Wachsberger Written by Roman Polanski, Robert Harris (screenplay), Robert Harris (novel) Starring Ewan McGregor, Pierce Brosnan, Olivia Williams, Kim Cattrall, Tom Wilkinson, Timothy Hutton, James Belushi, Eli Wallach Music by Alexandre Desplat Cinematography Paweł Edelman Editing by Hervé de Luze Distributed by Summit Entertainment Running time 128 minutes Country France, Germany, United Kingdom Language English


Seorang Perdana Menteri Inggris (bernama Adam Lang) membutuhkan seorang penulis untuk melanjutkan penulisan biografinya yang belum terselesaikan karena penulis sebelumnya (Mc Ara) tiba-tiba ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar dengan dugaan sementara akibat tenggelam di laut. Seorang penulis (yang selanjutnya disebut dengan the ghost writer) terpilih untuk melanjutkan proyek penulisan tersebut meski dirinya tidak banyak mengetahui pembahasan mengenai dunia politik, namun prinsip menulisnya yang “menggunakan hati – heart”, cepat dan serba bisa menjadikannya berbeda dan akhirnya terpilih.

Jangka waktu yang diberikan untuk menyelesaikan proyek tersebut adalah satu bulan, sehingga kesempatan untuk dapat “hadir” dalam kehidupan keseharian Adam Lang akan sangat membantu theghost writer dalam memperoleh kesan kehidupan Adam Lang selama menjabat sebagai Perdana Menteri. Pengamanan serta kesempatan akses yang terbatas terhadap teks biografi yang sebelumnya telah ditulis oleh Mc Ara sangat privat dan ketat sehingga mengharuskan the ghost writer untuk tinggal dalam rumah kliennya.

Permasalahan politik internasional terkait pengadilan terorisme yang berlangsung illegal menyebutkan nama Perdana Menteri Adam Lang terlibat dalam melegalkan keputusan tersebut bersama CIA sehingga menimbulkan isu yang bertentangan antara pembelaan Hak Asasi Manusia dengan dendam yang bersifat pribadi. Bebagai tekanan masyarakat, kecemasan Perdana Menteri Adam Lang, serta kejanggalan bukti yang ditemukannya melahirkan inisiatif  the ghost writer untuk menyelidiki lebih jauh sosok Perdana Menteri Adam Lang dengan diam-diam mengumpulkan fakta-fakta yang diduga juga masih berkaitan dengan kasus kematian Mc Ara. Berbagai pihak ditemui berdasarkan informasi yang tercantum pada dokumen Mc Ara yang tidak sengaja ditemukan oleh the ghost writer dalam almari Mc Ara. Kejanggalan semakin nampak dalam kematian Mc Ara, hingga tiba gilirannya the ghost writermenemui Paul Emmet, yang diduga adalah rekan Perdana Menteri Adam Lang sekaligus menjalin kerjasama khusus yang tersembunyi sejak keduanya menyelesaikan pendidikan universitas yang pada akhirnya turut membawa ketertarikan Adam Lang untuk masuk dalam ranah politik yang sebenarnya masih menjadi sebuah kejanggalan.

Sepulang dari kediaman Paul Emmet, the ghost writer mendapati adanya sebuah mobil yang melaju mengikuti arah kemudinya dan mengarahkannya untuk mengambil jalan menuju ke dalam hutan. Upaya penyelamatan diri dilakukan the ghost writer hingga akhirnya ia menyadari bahwa yang baru saja dialaminya adalah sebuah kesengajaan yang dilakukan oleh oknum tertentu terhadap the ghost writeryang telah menyadari adanya kerjasama politik tersembunyi dalam pemerintahan dengan CIA. Hal ini pula yang ternyata menimpa Mc Ara, the ghost writer yang telah terbunuh sebelumnya. Tanpa diduga, Perdana Menteri Adam Lang pada akhirnya terbunuh karena ditembak oleh seorang pengunjuk rasa ketika baru tiba di Bandara setibanya dari New York.

Dalam peluncuran (launching) buku biografi Adam Lang banyak relasi politik yang hadir sekaligus memberikan dukungan moril terhadap Ruth Lang (isteri dari Perdana Menteri Adam Lang. alm). Tanpa disengaja, the ghost writer mendapati Ruth Lang bersama dengan Paul Emmet yang kemudian menimbulkan pertanyaan atas hubungan dari keduanya. Penjelasan dari Amelia Bly (sekretaris dari Perdana Menteri Adam Lang.alm) serta teks yang ditulis oleh Mc Ara memberikan jawaban kepada the ghost writer bahwa Ruth Lang telah diangkat oleh Paul Emmet untuk menjadi agen CIA. Sebuah fakta kerjasama politik tersembunyi yang mereka tutupi dari masyarakat dan tidak pernah diduga sebelumnya oleh the ghost writer akan keterlibatan dari Ruth Lang. Kesadaran Ruth Lang terhadap kejelasan fakta yang telah diperoleh the ghost writer kembali terulang menjadi sebuah ancaman bagi keselamatan the ghost writer yang pada akhirnya juga terbunuh.

 

Unsur teknis yang berhasil diarahkan dengan baik kemudian berhasil diseimbangkan dengan kemampuan Polanski dalam mengarahkan setiap jajaran pemerannya. Ewan McGregor dan Pierce Brosnan berhasil membawakan karakter mereka dengan sangat baik. Namun aktris Olivia Williams-lah yang mampu mencuri perhatian setiap kali ia hadir di dalam sebuah adegan. Berperan sebagai seorang istri yang sedang memiliki masalah dengan sang suami sekaligus menyimpan misteri kehidupannya sendiri, Williams tampil rapuh namun mampu menampilkan satu faktor yang membuat karakternya tidak dapat dipandang sebelah mata begitu saja. Para pemeran pendukung film ini, mulai Kim Cattrall, Tom Wilkinson hingga Eli Wallach mampu mampu semakin menguatkan penampilan film ini.

Sekali lagi, Roman Polanski mampu menunjukkan posisinya di antara sedikit sutradara dunia yang mampu terus tampil konsisten dengan karya-karya yang mereka hasilkan. The Ghost Writer bukan hanya sebuah thriller politik biasa. Berbekal naskah cerita yang kuat, yang dipenuhi oleh intrik-intrik politik yang misterius, Polanski mampu membangun dan meningkatkan intensitas ketegangan dari tiap menit durasi film ini berjalan. Tidak hanya dari sisi cerita, sisi teknis film ini juga menjadikan setiap gambar yang dihadirkan di sepanjang The Ghost Writer begitu indah untuk disaksikan. Ditambah dengan kemampuan para jajaran pemeran film ini untuk membawakan sisi emosional cerita dengan sangat baik, The Ghost Writer adalah sebuah thriller politik elegan yang tidak hanya menegangkan, namun juga sangat menghibur.

The Whistleblower (2011)

Directed by Larysa Kondracki Produced by Christina Piovesan, Amy Kaufman, Celine Rattray Written by Larysa Kondracki, Eilis KirwanStarring Rachel Weisz, Vanessa Redgrave, Benedict Cumberbatch, David Strathairn, Monica Bellucci, Roxana Condurache, Nikolaj Lie Kaas, Anna Anissimova, David Hewlett, William Hope Music by Mychael DannaCinematography Kieran McGuigan Editing by Julian ClarkeStudio Samuel Goldwyn Films/Whistleblower (Gen One)/Barry Films/Sunrise Pictures/Primary Productions/First Generation Films/Mandalay Vision/Indomitable Entertainment/Voltage Pictures Running time 112 minutes Country Canada, Germany Language English

Didasarkan pada insiden terungkapnya kasus women trafficking yaang dilakukan oleh beberapa anggota penjaga keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa di Bosnia pada tahun 1999, Weisz berperan sebagai Kathryn Bolkovac, seorang polisi wanita yang kemudian menerima tawaran untuk menjadi salah satu anggota penjaga keamanan PBB di Bosnia pasca perang yang terjadi di wilayah tersebut. Kathryn sendiri menerima tawaran pekerjaan tersebut murni karena alasan ekonomi. Namun, setelah beberapa saat berada di wilayah tersebut, dan mulai menyadari bahwa terdapat beberapa kasus penjualan wanita di bawah umur yang sama sekali tidak mendapatkan perhatian luas, Kathryn mulai tergerak untuk membenahi masalah tersebut.

Secara perlahan, Kathryn mulai membuka berbagai lembaran hitam yang menyelubungi kasus women traffickingtersebut. Sebuah kejutan kemudian datang ketika Kathryn menyadari bahwa orang-orang yang berada di balik industri penjualan wanita di bawah umur yang selama ini ia selidiki adalah orang-orang yang berada di satu wilayah pekerjaan dengannya, orang-orang yang bekerja di bawah panduan bendera PBB. Berang mengetahui fakta tersebut, Kathryn bertekad untuk membuka kedok orang-orang yang seharusnya melindungi mereka yang telah dijadikan korban. Tidak mudah, tentu saja. Bekerja di bawah nama PBB untuk kemudian mengungkapkan borok busuk beberapa anggota yang juga bekerja di bawah nama yang sama, Kathryn mulai merasakan tekanan dari beberapa orang yang coba untuk menutup mulutnya.

Masalah terbesar dari The Whistleblower adalah film ini tidak dapat membedakan dirinya dari film-film lain yang jalan ceritanya didasarkan atas sebuah kisah nyata. Dalam kasus The Whistleblower, seorang wanita menemukan sebuah kebobrokan di sebuah lembaga besar nan terpercaya dan kemudian berusaha untuk membuat publik menyadari bahwa kebobrokan tersebut harus diungkap sekaligus dimusnahkan. Cukup sederhana jika dijabarkan dengan jalan tersebut dan sesederhana itu pula Larysa Kondracki menggambarkan film yang ia arahkan. Tidak ada kejutan berarti, terlepas dari beberapa kali keberhasilan Kondracki dalam menampilkan beberapa grafis kekerasan ekstrem yang mampu tampil mengejutkan dan meningkatkan intensitas cerita.

Pun begitu, The Whistleblower sama sekali bukanlah sebuah film yang dapat dipandang sebelah mata. Biarpun Anda dapat dengan mudah membaca setiap pergerakan dan adegan yang akan ditampilkan – meskipun Anda sama sekali belum pernah membaca kisah nyata dari karakter Kathryn Bolkovac – Anda harus mengakui bahwa Kondracki mampu menyusun jalan cerita filmnya dengan sangat baik. Hal ini kemudian membuat intensitas jalan cerita film demikian terjaga. Sedari awal konflik dimulai, intensitas secara perlahan kemudian meningkat yang diiringi dengan beberapa sentuhan misteri yang akan cukup mampu membuat penonton tetap merasa tertarik untuk mengikuti kisahnya.

Penampilan Rachel Weisz juga berada dalam performa teratasnya. Ketika karakter-karakter lain ditampilkan hampir terlihat hanya sebagai pelengkap cerita, karakter yang diperankan oleh Weisz tampil dalam penceritaan mendalam dan mampu dihidupkan Weisz dengan sangat sempurna. Beberapa momen emosional yang membutuhkan eksplorasi yang dalam juga berhasil dilalui Weisz dengan tanpa masalah. Selain Weisz, nama-nama seperti Vanessa Redgrave, David Strathairn dan Monica Bellucci juga hadir mengisi departemen akting The Whistleblower. Sayangnya, karakter yang mereka perankan disajikan dalam peran yang begitu terbatas yang membuat mereka tidak begitu mampu memberikan penampilan yang lebih mendalam lagi.

Yang harus diperhatikan adalah The Whistleblower merupakan sebuah film yang datang dari seorang sutradara debutan. Dan berdasarkan kriteria tersebut, The Whistleblower harus diakui telah mampu tampil dalam kualitas yang sangat berkelas. Larysa Kondracki mampu mengarahkan cerita yang ia bawakan untuk tampil dalam intensitas yang terjaga sekaligus mampu mengarahkan para jajaran pemeran filmnya untuk dapat memberikan permainan akting mereka. Kekurangan Kondracki untuk mengeluarkan jalan cerita ‘konvensional’ ke sebuah wilayah penceritaan yang lebih berwarna lagi yang membuat The Whistleblower akan sulit dibedakan dengan banyak film yang bertema sama lainnya. Pun begitu, The Whistleblower jauh dari kata mengecewakan.

‘ELITE SQUAD’, Kisah Para Penegak Keadilan

'ELITE SQUAD', Kisah Para Penegak Keadilan
© Universal Pictures

Genre : Action
Release Date : October 5, 2007
Director : José Padilha
Script : Bráulio Mantovani, José Padilha, Rodrigo Pimentel
Producer : José Padilha, Marcos Prado
Distributor : Universal Pictures
Duration : 120 minutes
Budget : US$6.5 million
Official Site : http://www.tropadeeliteofilme.com.br

Melalui narasi seorang kapten BOPE—semacam pasukan khusus di kepolisian Brazil—Roberto Nascimento (Wagner Moura), penonton diajak memasuki “hutan belantara” di balik keindahan eksotik negeri samba tersebut. Bersetting di kota Rio de Janeiro sekitar tahun 1997, “The Elite Squad” (Tropa de Elite) akan menceritakan sepak terjang BOPE dari hari ke hari melawan obat-obatan terlarang dan para pengedarnya. Jika polisi “biasa” sudah kewalahan, maka Nascimento dan anak buahnya akan turun tangan menyusuri gang-gang sempit di wilayah kumuh kota Rio, tak jarang pengkolan-pengkolan diantara padatnya perumahan yang terletak didataran tinggi ini, akan menjadi medan perang yang bersimbah darah. Malam hari yang damai dengan iringan suara jangkrik dalam sekejap berubah riuh, desingan peluru saling menyaut, dan menyusul korban pun berjatuhan satu demi satu, biasanya lebih banyak dari pihak pengedar obat.

Ketika dalam seragam kebanggaan berwarna hitam dan berlambang tengkorak tersebut, Nascimento mungkin akan terlihat sebagai laki-laki tangguh yang memimpin sekawanan mesin pembunuh. Namun dibalik itu, dia adalah seorang suami yang sedang menantikan anak pertamanya. Keluhan istri dan beban sebentar lagi dia akan menjadi ayah membuat Nascimento stres, dilema, dan itu mempengaruhi kinerjanya di BOPE yang memerlukan ketenangan bukan sebaliknya. Nascimento selanjutnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya, tetapi dia sebelumnya harus mencari pengganti yang ideal, sambil mencari dan menunggu, ada tugas berat yang harus diselesaikan. Paus John Paul II akan datang ke Rio dan BOPE punya misi untuk “membersihkan” perkampungan Rio dari “kotoran”.

“The Elite Squad” tidak hanya akan menceritakan BOPE dan persoalan pribadi sang kapten, Nascimento. Tetapi juga menghadirkan kisah dua orang polisi jujur yang dengan sangat terpaksa harus terjun ke sarang tikus-tikus polisi yang korup. Neto Gouveia (Caio Junqueira) dan André Matias (André Ramiro) yang kelak akan menjadi kandidat BOPE dan pengganti Nascimento ini, adalah dua orang rookie di kesatuan mereka. Kebanggaan mereka menjadi polisi sepertinya langsung luntur ketika melihat kenyataan di depan mata kepala mereka sendiri, kalau ternyata lapangan bermain yang mereka injak begitu kotor dan berlumpur. Walau begitu Neto dan André tetap berusaha memegang erat status polisi jujur, sambil beradaptasi dengan lingkungan polisi yang busuk ini.

Film yang disutradarai oleh José Padilha ini mungkin akan terlihat membingungkan jika dilihat dari cerita yang seakan bertumpuk (belum lagi konflik dan masalah-masalah yang hadir) dengan beberapa karakter yang berkeliaran kesana-kemari. Tapi biarkan “The Elite Squad” bernafas sebentar sambil melanjutkan narasi Nascimento, dijamin beberapa menit kemudian kita dengan tidak sadar sudah terikat kencang bersama cerita, bertamasya ria menelururi jujurnya José mengemas film ini, mengingatkan saya dengan kejujuran yang ditampilkan film Brazil bernuansa serupa, City of God (2002) dan City of Men (2007). Film yang terinspirasi sebuah buku berjudul Elite da Tropa ini seakan membawa mata penonton menuju realita sesungguhnya yang terjadi di Brazil, khususnya kota Rio, yang disini dijadikan arena perang batin, konflik, dan juga perang melawan preman-preman bersenjata M-16. José membungkus filmnya layaknya dokumenter kriminal yang biasa saya lihat didiscovery channel, tentu saja lebih seru, sekaligus lewat kacamata Neto dan André, serta Nascimento, penonton akan diperlihatkan betapa keras dan brutalnya hidup di gang-gang sempit itu. Walau tidak dipungkiri disana ada kehidupan yang normal, yah di daerahslum kota Rio yang dihuni geng dan pengedar obat bersenjata lengkap, seperti sudah terbiasa, kehidupan penghuninya juga berjalan berbarengan dengan kebrutalan dan kekacauan itu. Bukit-bukit yang dipadati deretan rumah begitu rapih menyimpan rahasia, teratur di lihat dari udara namun begitu menapaki jalan kecil dan anak-anak tangga, kita akan melihat cerita yang sebenarnya, merasa bersyukur tinggal di kota yang katanya sih sesak dengan masalah, tapi jika dibandingkan dengan Rio, pilih mana?

Pemaparan José dalam “The Elite Squad” tidak berhenti sampai sarang preman, asyiknya berlanjut juga memperkenalkan betapa korupnya institusi kepolisian, bahkan onderdil mobil baru pun sempat-sempatnya dijual dan diganti dengan yg usang. Oke film ini jelas mengabarkan sebuah berita baik, disana masih ada polisi jujur, melirik dua orang yang untungnya masih setia dengan idealismenya, Neto dan André. Disana juga ada BOPE, fungsinya jelas untuk memberantas kebobrokan, kadang memberi pelajaran kepada polisi yang korup ketika mereka masuk pelatihan untuk menjadi skull(panggilan akrab BOPE). Mereka tidak pernah basa-basi dan diperlihatkan lebih “suci” ketimbang mereka-mereka yang korup. Sayangnya dibalik kemasannya yang good guy vs. bad guy, sebetulnya José membuat film ini lebih dari sekedar punya niat hanya memojokan si jahat dan kemudian diakhir mengagung-agungkan ksatria yang menyelamatkan hari ini dari kejahatan. Buang jauh-jauh pakem hollywood tersebut, di “The Elite Squad” batas antara jahat dan baik begitu tipis, dipisah antara pagar yang rapuh. Dibarengi dengan intensitas ketegangan yang makin dipacu, yang datangnya dari perang-perangan melawan drug lords ataupun konflik-konflik yang makin ramai, Jose juga menyuapi penonton dengan perkembangan tiap karakter-karakternya—Neto dan André, serta Nascimento—menjadi saksi sebuah proses ketika “batas” jahat dan baik itu diloncati, “pagar” itu dirubuhkan.

Bagaimana film ini menjabarkan tiap baris skenario yang ditulis Bráulio Mantovani, José Padilha, dan Rodrigo Pimentel menjadi cerita yang begitu menarik dengan visual yang meyakinkan, ditambah pengambilan gambar yang apik oleh Lula Carvalho. Faktor-faktor itu saja sudah membuat saya kecanduan mengikuti kisah Neto, André, dan Nascimento hingga selesai, sebagai bonus jajaran pemainnya juga berlakon sangat-sangat solid. Film-film dari Brazil memang “sialan”, begitu mudah membuat saya kepincut dan jatuh cinta, termasuk “The Elite Squad”. Dua film yang saya sebutkan sebelumnya, “City of God” dan “City of Men”, hmm satu lagi“Carandiru” bisa jadi pilihan selanjutnya jika kalian juga menyukai film sejenis dengan karya José Padilha ini. Sama-sama punya kelebihan dalam cara film-film itu bercerita: menarik, jujur, dan sangat memikat.

Elite Squad: The Enemy Within

Elite Squad: The Enemy Within

Tropa de Elite 2 – O Inimigo Agora É Outro (original title) 
(2010)
http://www.imdb.com/title/tt1555149/ 

Genre: Crime | Drama | Thriller
Director: José Padilha
Stars: Wagner Moura, Irandhir Santos and André Ramiro

Size: 398 MB
Q: 720p

Sinopsis

Elite Squad mengalir tanpa basa-basi. Keras dan lugas. Korupsi, kebrengsekan dan kebrutalan para polisi hadir telanjang. Darah dan kekerasan hadir terus menerus dan muncrat di sana sini.

Elite Squad: The Enemy Within lebih berfokus pada bagaimana para polisi korup itu membangun sistem bersama dengan para politikus yang tak kalah curang dan brengsek. Dengan enteng dan lugas, film ini membeberkan bagaimana para polisi itu menguasai daerah-daerah yang dulunya dikuasai oleh gangster narkoba. Para bangsat berseragam itu lalu mengendalikan daerah-daerah tersebut untuk keuntungan mereka sendiri, dan dengan modal itu mereka lalu bertransaksi secara politik dengan kekuasaan untuk memenangkan kembali Si Gubernur.

Inilah sistem, demikian setidaknya film ini hendak berbicara. Sistem ini tak dikendalikan oleh satu atau dua orang, semisal Kapolda atau Kapolri atau Walikota atau Presiden. Namun sistem ini dikendalikan oleh banyak elemen yang semuanya mempunyai kepentingan kotor. Sistem ini bergerak dari level atas sampai bawah.

Sistem ini bisa memotong tangan dan kakinya sendiri, yang akan tumbuh kembali dengan cepat, untuk menyelamatkan tubuh, leher dan kepalanya.

Di akhir film, Letnan kolonel Nascimento, sebagai tokoh utama, yang diperankan oleh Wagner Moura, berkata di depan sidang bahwa langkah yang paling masuk akal untuk mengatasi seluruh keruwetan dan kerusakan ini adalah dengan membubarkan kepolisian di Rio De Jeneiro.

Film ini memang berakhir kecut dan gamang dan penuh pertanyaan: Mungkinkah sistem yang runyam ini akan menjadi baik? Bagaimana caranya? Bukankah semua telah terinfeksi?

 

Iklan